Home / News / NKS Menulis Perth-2: Bertemu si Lucu Koala

NKS Menulis Perth-2: Bertemu si Lucu Koala

Menjelajah Kings Park tuntas.  Kami memulainya dari sangat pagi sampai matahari berada di atas kepala. Tapi rasanya masih belum rela untuk meninggalkan kawasan elok itu, sehingga kami masih berada di sana, bahkan  hingga bayangan diri tak lagi ada.

Walau Kings Park sudah selesai dikelilingi, rasanya beberapa hari ke depan saya akan ke taman ini lagi. Tiap hari selama di Perth, mengunjungi taman ini, tak pernah dihardik bosan.  Indah dan murah, tanpa ongkos parkir.

Lalu siang dan lapar datang hampir bersamaan. Padahal saya yakin mereka tidak janjian. Memang bukan tugas sopir untuk mencari tempat makan, namun sudah barang tentu sopir perlu tahu harus kemana mobil diarahkan.

Menjauh dari taman, kami mencoba memilih makanan. Sudah lama tidak menikmati kebab sehingga makanan asal Timur Tengah ini menjadi pilihan. Kebab membuat kenyang dan kembali berenergi.

Selesai makan siang dan konsentrasi sudah mulai pulih, saya menyadari rupanya rumah atau apartemen yang kami sewa tidak jauh dari tempat makan kebab. Dan, saatnya check in tiba. Langsung saja sebagai sopir, saya mengusulkan untuk check in dan mungkin bisa mandi serta istirahat barang sejenak.

Usulan diterima. Kami bertemu dengan yang mengurusi penyewaan apartemen (lebih cocok disebut rumah) untuk mendapatkan kunci dan dijelaskan beberapa fungsi dari kunci tersebut. Kunci pertama berupa remote untuk membuka gerbang. Lalu kunci rumah atau apartemen itu sendiri.

Ini berbeda dengan yang pernah kami sewa sebelumnya yang menggunakan kunci berupa berupa kata atau huruf (password). Tak perlu bertemu, untuk menjadi tamu.

Ya, akhirnya untuk seminggu ke depan kami menempati rumah dengan tiga kamar tidur dan dua kamar mandi, lengkap peralatan dapur, seterika, handuk, dan mesin cuci pakaian. Harga yang jauh lebih murah dibanding menginap di hotel. Hanya perlu membereskan tempat tidur dan menyapu sendiri.

Kami lantas mandi dan berganti pakaian serta rehat sejenak. Sore itu, kami menunggu keponakan yang datang dari Singapura bergabung liburan. Namanya Vivi.

Keponakan yang waktu kecilnya saya gendong-gendong saat saya kuliah di Bandung, kini kerja di Singapura. Vivi datang tanpa sempat dijemput karena sang sopir istirahat siang.

Nah, seperti biasanya musim panas menjadikan siang tak mau cepat menghilang. Matahari masih cukup tinggi saat waktu menunjukkan pukul 17.00. Bahkan petang baru datang pukul 19.27. Dan, Elizabeth Quay menanti untuk dikunjungi. Banyak ikon kota Perth yang rugi jika tidak dihampiri untuk selfie. Jadilah kami kini berlima, termasuk saya sebagai sopir.

Elizabeth Quay terletak di Central Bussiness District (CBD) Kota Perth. Perluasan dari CBD yang ada dengan menambah akses termasuk untuk lalu-lalang kapal. Saya menyusuri jembatan ikonik Elizabeth Bridge yang cantik. Menikmati senja di Elizabeth Quay hingga matahari benar-benar menghilang dan tenggelam.

Senja itu lalu ditutup dengan makan malam sebelum akhirnya saya pulas oleh sebab ditindih lelah perjalanan.

Hari kedua datang lebih semarak. Di Kota Perth bulan Januari, matahari lebih rajin menampakkan diri. Subuh jatuh pada pukul 3.35 dan matahari terbit di pukul 05.13. Itenary yang dibuat si bungsu di hari kedua adalah ke Caversham Wildlife Park atau Taman Margasatwa Caversham. Padahal, sejatinya ada Perth Zoo yang jaraknya hanya selemparan batu dari tempat menginap.

Entah alasan apa, tour guide kami itu, memilih Caversham Wildlife Park. Tapi saya yakin si bungsu pasti sudah membandingkan apa kelebihan dan kekurangan masing-masing. Sebagai sopir, tugas saya jelas, membawa rombongan ke Caversham Wildlife Park dengan selamat.

Masih pagi saya dan rombongan sampai di Caversham Wildlife Park. Tak perlu mengantre untuk membayar tiket, karena belum terlalu banyak pengunjung.

Caversham Wildlife Park  adalah rumah bagi berbagai binatang. Tentu yang menarik adalah binatang yang Australia banget semisal kanguru, koala, possum, walabi, wombat, dan Tasmania devil. Pastinya juga ada hewan lainnya seperti biri-biri, banteng, llama, beraneka burung, bermacam reptil, dan sebagainya.

Dalam tulisan ini tiga binatang asli Australia akan saya coba ‘kuliti’ lebih rinci. Pertama adalah kanguru atau kangguru. Siapa yang nggak tahu binatang ini. Semua pasti mengenalnya. Di Caversham Wildlife Park, salah satu bagian yang favorit adalah area taman yang di dalamnya banyak kanguru-nya.

Nama kanguru bisa kita duga berasal dari bahasa Aborigin. Rumornya, pelaut Inggris saat kapalnya rusak dan harus mendarat di Australia melihat seekor binatang yang sangat unik karena memiliki kantung. Lalu pelaut itu bertanya kepada orang Aborigin tentang nama hewan unik tersebut. Lalu di jawab oleh orang Aborigin tersebut, “ Kang-Ga-Roo, yang artinya  Saya tidak tahu.”

Tapi itu versi rumor. Versi yang benar, kata kanguru berasal dari bahasa Aborigin yaitu gangurru, atau hewan berkantung.

Kanguru sangat ramah dengan pengunjung. Banyak hidup di hutan di seluruh wilayah Australia. Makanya jangan heran di saat melintasi jalan baik jalan tol tau jalan biasa, kita akan melihat rambu lalu lintas berupa gambar kanguru nyeberang jalan.

Fenomena itu, oleh toko souvenir dijadikan barang yang dijual untuk ditempel di kaca mobil bagian belakang. Sebuah gambar kanguru dengan tulisan Next 44 km.

Hewan kedua yang ditemui di Caversham Wildlife Park adalah walabi. Binatang ini masih  famili dekat dari kanguru. Makanya mirip sekali dengan kanguru, bedanya ada di ukuran. Jika kanguru berukuran cukup besar, walabi memiliki ukuran yang relatif lebih kecil.

Yang juga membedakan dengan kanguru dan ini hal menarik dari walabi, bisa berenang. Sayangnya, pas kami berkunjung di Caversham Wildlife Park mereka sedang tidak berenang. Mungkin baju renangnya masih belum kering.

Binatang khas Australia yang juga terkenal adalah koala. Binatang yang sangat lucu dengan bulu abu-abu. Jika kita lihat di habitat aslinya, koala hidup bergelantungan di barisan pohon-pohon ekaliptus.

Saya jadi teringat beberapa tahun lalu saat mengunjungi Sydney dan Melbourne, saya sempat melihat langsung bagaimana kemalasan koala yang hanya bertengger di pohon ekaliptus. Mereka tidak pernah turun untuk sekedar minum.

Mereka lebih baik tidur daripada bergerak untuk mencari minum. Makanya oleh kaum Aborigin, binatang tersebut disebut koala yang berarti “tidak minum”. Hewan ini jarang minum air, semua moistur dalam tubuhnya didapat dari daun ekaliptus yang mereka konsumsi.

Sayangnya saya nggak sempat mengecek warna urin koalo berwarna apa. Jangan-jangan pipis pun males. Koala memang hobinya menghabiskan harinya dengan tidur (bisa 18 jam dalam sehari semalam). Tak jarang bangun hanya untuk makan lalu lanjut tidur lagi.

Pertanyaan yang menggelitik saya adalah “lha kok ya bisa berkembang biak ya, kapan sempat untuk memadu kasihnya?”

Saat berfoto dengan koala setelah mengantre agak panjang, saya teringat sedang ada kebakaran hebat di Australia. Kebakaran diakibatkan suhu ekstrem musim panas yang memang susah untuk dijinakkan. Sedih dan tak tega melihat berita di televise , banyak satwa khas Australia yang terpanggang hidup-hidup.

Binatang yang sangat lucu seperti kanguru dan walabi, jadi daging panggang yang tak disantap. Juga, koala yang tak biasa untuk bangun dari tidurnya. (bersambung)

Nami Kulo Sumarjono. Salam NKS.

 

About redaksi

Check Also

Pengukuhan Pengurus DPW Genppari Propinsi Jambi

Jambi, Koranpelita.com Bertempat di Aula kediaman Gubernur Jambi Kamis (23/1) bergemuruh semangat masyarakat untuk memajukan ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *