Home / News / NKS Menulis Perth-1: Jadi Sopir yang Baik

NKS Menulis Perth-1: Jadi Sopir yang Baik

Tulisan ini masih bagian dari langkah mewujudkan angan-angan. Angan yang lama terpendam sangat dalam. Menulis sebuah buku tentang perjalanan, kemana pun diri ini pergi. Buku impian itu kita-kira pas diberi judul Sewu Kutho.

Bagi kaum sadboy dan sadgirl, yakinlah kenal dengan kalimat Sewu Kutho. Benar. Judul ini terinspirasi dari lagu yang digemari oleh banyak sobat ambyar yang dipopulerkan oleh Didi Kempot. Dan, kali ini tulisan tentang sebuah kota di Benua Australia (lagi).

Perth. Ya, liburan kali ini saya ke kota sepi Perth. Pasti banyak orang bilang, mau lihat apa di Perth. Jika boleh jujur, awalnya lebih karena alasan harga tiket yang terjangkau. Juga visa yang masih berlaku. Tahu sendiri kan, musim liburan, harga tiket melejit hingga ke langit.

Maka di akhir tahun 2019, saat orang bersiap menyambut tahun baru, saat senja datang, saya dan keluarga sibuk mengangkat koper. Mampir dulu ke Denpasar sebelum terbang tengah malam menuju Perth.

Jadilah, kami menghampiri tahun baru tidak di bumi, melainkan di langit. Ini pengalaman baru. Setidaknya, bagi kami. Secara spiritual, saya juga meresapi momentum yang tidak biasa. Sebab, bisa melakukan kontemplasi secara lebih khusuk.

Untuk urusan di luar merenung, manekung, semedi, kontemplasi, di atas ketinggian, tetap ada. Saat pesawat kumleyang ing tawang, menjelajah angkasa. pramugari memberi kami terompet kecil. Dengan aba-aba dari pramugari, kami serentak meniup terompet sekeras-kerasnya walau masyarakat bumi tak mungkin mendengarnya. Teeeetttt teeeeeettt teeeeetttt. Happy New Year 2020.

Malam tahun baru kali ini tak memberi saya nyenyak yang cukup. Membayangkan empuknya awan putih sebagai kasur di angkasa, ternyata justru membuat mata menjadi terjaga. Padahal membayangkan kalau mimpi di sebuah ketinggian, harapannya begitu bangun, mimpi itu terlaksana. Asal jangan mimpi buruk.

Tak sampai 4 jam, pesawat milik nasional ini mendarat di bandar udara internasional Perth. Masih jam 04.20 pagi. Melewati imigrasi, petugas imigrasi menanyakan asal negara. Begitu tahu dari Indonesia, ia menyapa ramah, “Selamat pagi. Happy New Year”.

Kemudian mengambil bagasi dan melewati pemeriksaan bea cukai. Walau bilang tak membawa barang seperti makanan dan benda terlarang, namun kami tetap terkena pemeriksaan acak yang harus membuka semua tas yang kami bawa. Petugas akhirnya menyerah dan percaya tak ada barang yang perlu disita karena hanya menemukan baju dan celana.

Pukul 5.30 waktu Perth, semua urusan imigrasi dan bea cukai selesai. Tapi tak perlu tergesa. Karena seperti biasa anak-anak sudah mengatur semuanya. Perth memang terlalu sepi.  Pilihan alat transportasi perlu difikirkan jauh hari. Dan, anak-anak meminta ayahnya mengurus SIM internasional.

Herannya saran itu saya penuhi, setelah menganalisa dari berbagai aspek, dengan catatan anak-anak menyelesaikan urusan menyewa mobil, mau jalan kemana, dan lain sebagainya. Urusan saya kali ini hanya menyetir.

Menjadi sopir yang baik. Bahkan untuk membayar sewa apartemen lewat airbnb dengan harga yang relatif terjangkau, sewa mobilpun anak pertama, yang telah bekerja, melakukannya. Tapi saya yakin beberapa hari ke depan tagihan ke ayahnya akan segera berdatangan.

Pukul 6.45 akhirnya kunci mobil sudah di tangan. Sementara check in di apartemen baru bisa dilakukan pukul 14.00. Namun saya tak perlu khawatir dengan waktu menunggu. Toh tugas saya jelas, menjadi sopir yang baik.

Benar saja. Menggunakan google map, sesuai itenary yang dibuat anak bungsu, mobil diminta diarahkan ke taman yang sangat luas. Namun sebelum itu, sopir diminta membelokkan mobil ke sebuah restauran Zamia Cafe yang terletak di lingkungan taman Kings Park and Botanical Garden.

Memang sopir belum sarapan secara benar walau di pesawat diberi omelet, namun rasanya belum nendang. Saya kira juga pas jika mengisi perut kosong, terutama dengan minuman panas agar mata tetap terjaga. Ini penting untuk profesi saya selama di Perth.

Sayangnya sampai di lokasi, restoran masih bersiap diri. Malam tahun baru membuatnya agak terlambat buka. Lagi pula jalanan yang lengang membuat waktu tempuh dari bandara ke Zamia Cafe tak lama.

Menunggu sejenak hingga cafe buka, saya memanjakan mata dengan menikmati hijaunya Kings Park and Botanical Garden. Burung, bebek serta angsa menyambut kedatangan kami seolah mereka turut mengucapkan selamat datang ke Perth dan juga ucapan selamat tahun baru.

Sarapan pagi ala orang Australia akhirnya saya jalani. Walau ada ragu, apakah perut wong ndeso ini mampu menampung masakan warga aussy. Pilihan saya adalah pancake yang ternyata ukurannya jumbo. Sementara istri dan anak-anak menyantap lemon cake dan fudge brownies.

Kopi panas baik latte ataupun white coffee dipilih istri dan anak-anak. Sementara saya konsisten dengan coklat panas, karena kopi hanya akan membuat perut saya sedikit bergejolak dan malamnya akan terjaga menunggu pagi tanpa mampu memejamkan mata. Sedikit berbeda dengan sopir biasanya yang meminta kopi untuk menyegarkan diri.

Sarapan selesai. Kini mata sedikit terbuka. Lalu melanjutkan menjelajah Kings Park (and Botanical Garden). Letak Kings Park berada di dataran yang tinggi bahkan sejatinya di gunung. Nama gunung itu adalah Mount Eliza.

Kings Park ini diklaim sebagai salah satu taman kota terbesar dan terindah di dunia. Kings Park memang spektakuler, karena memiliki lebih dari 3.000 spesies flora unik. Dua pertiga dari 400 hektar taman tersebut dilindungi sebagai hutan semak dan menyediakan surga bagi keanekaragaman hayati asli.

Sebagai pengunjung, saya dapat menikmati pemandangan dua sungai besar yang ada di bawah yaitu Swan River dan Canning Rivers, cakrawala kota dan Darling Ranges di timur. Tidak salah jika dibilang Kings Park adalah taman terindah di dunia.

Rasa kantuk yang hebat dan semilir angin di Kings Park serta teduhnya pepohonan, membuat saya, sang sopir, terlelap sangat dalam dan lama. Kasur empuk berupa hamparan rumput benar-benar sempurna membawa saya ke alam mimpi. Mimpi bermain piring terbang (frisbee) di taman atau berselancar atau bermain stand up paddle di Sungai Swan yang terlihat biru itu.

Lebih dari satu jam saya dibiarkan tertidur sangat pulas. Bahkan tak sadar ada orang lalu lalang di dekat kasur empuk yang terbuat dari rumput itu. Tak tahu jika anak-anak bule bermain bola sangat dekat dengan tempat saya menganyam mimpi. Untungnya tak mimpi bertemu Aborigin yang dulu menggunakan tempat yang kini bernama Kings Park ini untuk melakukan pemujaan.

Tak ada yang berani membangunkan sang sopir hingga terbangun sendiri. Begitu bangun, tak tahunya istri dan anak-anak tak lagi menunggui namun bergeser agak menjauh. Alasannya agar tak mengganggu tidur, tapi bisa jadi tak ingin mendengar sang sopir mendengkur. Entahlah.

Begitulah. Menjelajah Kings Park tak ada bosannya. Dan, di taman ini ada edukasi betapa pentingnya menjaga kelestarian alam. Penyuplai air, penahan banjir, dan jelas menjadi tempat rekreasi keluarga yang murah dan menyehatkan. Parkir mobil pun gratis di area ini. Sehingga untuk saya, sang sopir, sangat cocok karena tak perlu mikir bagaimana cara membayar parkir. (bersambung)

Nami Kulo Sumarjono. Salam NKS

About redaksi

Check Also

Pengukuhan Pengurus DPW Genppari Propinsi Jambi

Jambi, Koranpelita.com Bertempat di Aula kediaman Gubernur Jambi Kamis (23/1) bergemuruh semangat masyarakat untuk memajukan ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *