Home / News / NKS Menulis: Pijat Refleksi demi Refleksi Awal Tahun

NKS Menulis: Pijat Refleksi demi Refleksi Awal Tahun

Saya menulis ini, pada 31 Desember 2019.  Penghujung tahun yang agak menyiksa. Sebab, saya berkeras menulis sesuatu, meski sedang tidak ada ide apa-apa. Inginnya, membuat  semacam NKS menulis refleksi akhir tahun.

Tapi okelah. Saya akan memulai dengan angka cantik 2020 yang dinanti walau masih penuh misteri. Seperti semua tahun baru, 2020 juga tempat ketika segala harapan dipahatkan.

Melewati 2019, memang banyak cerita yang terajut. Selanjutnya, di hari terakhir sebelu memasuki hari baru 2020, saatnya merenung, berkontemplasi, dan belajar dari semua kisah yang terjalani. Tak perlu ragu membuang malu jika kisah itu memalukan.  

Bagi saya, 2019 adalah tahun keempat bekerja di bpjamsostek. Hari masih sangat pagi. Tiba-tiba saja Mr. Bae, priyayi Korea Selatan yang menjadi advisor di bpjamsostek, mengajak ngopi sambil bicara santai tepat di hari terakhir tahun ini, 31 Desember 2019. Ajakan yang tak pantas jika ditolak. Apalagi memang sudah agak lama saya tidak berdiskusi dengannya.

Mr. Bae mengenang bagaimana membangun institusi jaminan sosial bernama National Pension Services di Korea Selatan. Ia teringat dan memang seharusnya demikian, bahwa bekerja di badan penyelenggara jaminan sosial membuatnya sangat bangga dan bersyukur.

Menurutnya, bekerja di penyelenggara jaminan sosial berbeda dengan bekerja di sebuah perusahaan yang dimiliki perorangan ataupun badan hukum yang lebih akan memupuk keuntungan bagi pemiliknya.

Sementara bekerja di badan penyelenggara jaminan sosial, kata Mr. Bae, adalah untuk kemaslahatan orang banyak, penduduk, dan secara umum, untuk bangsa. Ini yang harus ditekankan bagi pegawai bpjamsostek agar muncul rasa kebanggaan mengemban amanat dan terpilih dari sekian banyak kandidat yang ingin bekerja.

Cerita Mr. Bae berlanjut saat ia menjadi pimpinan cabang, mungkin belasan tahun lalu. Seseorang mengajukan klaim untuk pembayaran lumpsum atau sekaligus atas kecelakan yang diderita saat orang tersebut bekerja. Satu tangannya harus rela hilang karena kecelakaan kerja.

Sebagai pimpinan cabang, Mr. Bae tergerak untuk menanyakan apa yang terjadi, dan apa yang sedang dilakukannya datang ke cabang tersebut.

Mr. Bae membantu menjelaskan hak-hak pekerja yang mengalami cacat total secara tetap. Dijelaskan dengan rinci, bahwa haknya bukan sekadar pembayaran sekaligus, namun lebih dari itu. Hak pensiun seumur hidup yang tentu lebih besar nilainya dari pada pembayaran sekaligus.

Hal semacam itu, mungkin justru dihindari jika bicara tentang private company. Memang bukan keuntungan institusi yang dicari, namun kesejahteraan pekerja yang hakiki.

Saya tak tahu pasti mengapa Mr. Bae berkisah tentang pride yang harus tumbuh, ketika memutuskan bekerja di bidang jaminan sosial. Adakah Mr Bae sedang khawatir pada diri saya? Jangan-jangan saya terlihat letih, penat, atau kurang bergairah? Padahal Mr. Bae sudah membawakan saya gingseng saat cuti dan kembali ke Korea Selatan.

Saat bertemu Mr Bae di hari terakhir tahun 2019, saya memutuskan banyak mendengar. Hanya sesekali saja menimpali. Tapi soal kekhawatirannya saya tak bergairah lagi, jelas saya tepis.

Saya pastikan bahwa saya bangga dan bersyukur bisa berada di bpjamsostek. Saya juga berusaha amat keras agar berkontribusi menyumbangkan peluh, keringat, pemikiran untuk jaminn sosial yang lebih baik.

Tapi memang ada kegundahan dalam diri saya. Tapi gundah, karena saat masih banyak orang yang tak memiliki jaminan sosial. Rasanya ikut perih, melihat pekerja mengalami kecelakaan kerja namun ia tak terlindungi. Atau mendengar keluarga menjadi miskin lagi saat pencari nafkah pergi menghadap Illahi.

Bukan. Bukan gundah-gulana oleh sebab ada orang berfikir negatif atas prestasi yang (barangkali) belum maksimal saya lakukan. Saya tak peduli pikiran negatif orang lain. Karena sesungguhnya, penghargaan sejati yang saya cari adalah saat pekerja mau menjadi peserta secara sadar diri.

Saya jadi ingat bagaimana bpjamsostek menginisiasi peningkatan manfaat untuk pekerja dan keluarganya tanpa kenaikan premi. Ini tidak akan terjadi untuk institusi pencari keuntungan. Ini, merupakan upaya menjaga harmoni antara iuran, manfaat, dan terciptanya keadilan. Sebuah ikhiar agar ada ruang kewajaran terjadi.

Upaya itu, tentu membanggakan bagi bpjamsostek. Juga, saya pribadi. Rasaya saya harus bersyukur menjadi bagian dari usaha membangun kesejahteraan. Semogalah, Mr. Bae melihat saya juga bangga dan bersyukur berkarya di badan penyelenggara jaminan sosial seperti dirinya.

Saya tidak tahu, dari sebelah mana Mr Bae melihat saya lelah. Karena seharusnya saya tidak terlihat lelah, karena hari Minggu, 29 Desember 2019 lalu saya refleksi. Pijat refleksi, sebelum menulis refleksi akhir tahun ini.

Ajaibnya saya juga menjadi lebih bersyukur lagi saat tahu terapisnya hanya menggunakan satu tangan. Tangan kirinya terputus saat ia bekerja di konstruksi dan terkena bor.

Luar biasa karena ia tak mau menyerah. Ia bahkan membuktikan pijitannya sama enaknya dengan mereka yang normal. Namanya saya ingat. Pak Ahmad Juaeni. Salut untuk perjuangan hidupnya.

Denpasar, 5 menit menjelang tahun baru. Salam NKS

About redaksi

Check Also

Pengukuhan Pengurus DPW Genppari Propinsi Jambi

Jambi, Koranpelita.com Bertempat di Aula kediaman Gubernur Jambi Kamis (23/1) bergemuruh semangat masyarakat untuk memajukan ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *