Home / Profil / Membangun Solidaritas Antarbangsa-bangsa di Dunia

Membangun Solidaritas Antarbangsa-bangsa di Dunia

Oleh: Prof Dr H Haryono Suyono, MA, PhD

Dari Konperensi Kependudukan dan Pembangunan di Nairobi yang pada hari pertama dihadiri oleh sekitar 6000 peserta dan konon pada akhirnya terdaftar sekitar 9500 peserta itu di dapat informasi bahwa tidak semua negara bisa menyelesaikan target yang disepakati di Cairo pada tahun 1994, dua puluh lima tahun lalu. Karena itu Indonesia yang ketinggalan dalam menurunkan kematian “Ibu mengandung dan melahirkan” tidak sendirian. Perlu bersama Negara lain membangun solidaritas menyelesaikan komitmen yang belum terselesaikan dengan baik.

Peserta yang memadati Kenyatta International Conference Centre minggu lalu itu pada hari pertama mendengarkan pernyataan dari para sponsor, presiden dan Kepala Negara yang umumnya berasal dari Afrika yang sebagian telah hadir pada Konperensi Kependudukan dan Pembangunan di Caito, Mesir, pada tahun 1994 dan menyampaikan komitmen ulang resminya yang antara lain berisi janji menurunkan tingkat kematian ibu hamil dan melahirkan, menghentikan kekerasan gender, mencapai target keluarga berencana dalam waktu sepuluh tahun mendatang.

Pertemuan Nairobi yang dihadiri utusan yang berasal dari lebih 100 negara itu terdiri dari unsur-unsur pemerintah, organisasi sosial masyarakat tingkat nasional dan internasional dan lebih dari 200 organisasi sosial masyarakat dan pemuda itu mengakui bahwa hasil kesepakatan Cairo masih bayak yang belum bisa dituntaskan.

 “Karena kaum perempuan adalah gawang seluruh keluarga, maka mereka memiliki pengaruh yang tinggi secara berkelanjutan dalam keluarga untuk anak-anaknya” komentar Presiden Kenya yang mendapat sambutan hangat, “Pemberdayaan Perempuan pada hakekatnya merupakan pemberdayaan seluruh keluarga, sama saja memberdayakan masyarakat secara luas, memberdayakan seluruh bangsa dan memberdayakan dunia.”

Konperensi tingkat tinggi yang merupakan peringatan 25 tahun Konperensi Cairo yang berhasil itu berlangsung sampai hari Jumat di Nairobi sebagai kenangan peringatan Konperensi Cairo pada tahun 1994 yang berhasil.

 Wakil Sekretaris Jendral PBB, Amina J. Mohammed yang ikut membuka Konperensi raksasa itu memuji pertemuan yang sangat besar itu, hasil-hasil yang telah dicapai sebelumnya tetapi tidak menutup mata masih banyak pekerjaan rumah karena belum seluruh komitmen yang dijanjikan telah tuntas di laksanakan dengan baik. Komitmen Cairo yang telah dilaksanakan itu meliputi usaha menurunkan tingkat kematian ibu hamil dan melahirkan, perluasan keluarga berencana secara suka rela. Tetapi banyak juga yang belum mencapai target seperti misalnya 75 persen target penurunan kematian ibu hamil dan melahirkan. Sehingga dalam pembukaan Konperensi di Nairobi itu beliau menegaskan bahwa PBB sepenuhnya berdiri di belakang Konperensi ini. Beliau menegaskan pula agar tidak ada satu pihak yang tidak diikut sertakan serta menjamin bahwa kita mengundang utamanya yang berada paling belakang. Beliau menegaskan bahwa pemenuhan Agenda ICPD merupakan kontribusi yang sangat penting untuk keberhasilan Agenda SDGs pada tahun 2030.

Sementara itu Direktur Eksekutif UNFPA Arthur Erken, salah satu sponsor utama Konperensi Cairo dan sekaligus sponsor utama Konperensi Nairobi, menyatakan bahwa jalan yang harus ditempuh masih panjang karena banyak target yang disepakati di Cairo belum tercapai.  Setiap hari ada sekitar 800 ibu-ibu meninggal dunia karena komplikasi saat mengandung dan melahirkan dan sekitar 33.00 terpaksa harus nikah pada saat masih sangat muda dan belum siap untuk mengandung dan melahirkan anak.

 Para peserta Konperensi percaya bahwa sesungguhnya kebutuhan untuk pencegahan itu bisa diadakan tetapi umumnya masyarakat belum memiliki komitmen yang kuat, sehingga diharapkan bahwa Konperensi ini bisa menghasilkan tidak kurang dari 1000 komitmen nyata untuk segera dilaksanakan termasuk penyediaan dana yang cukup dan penyediaan road map guna mencapai sasaran yang ditetapkan. Duta Besar khusus Denmark, Special Envoy untuk ICPD25, Ambassador  Petersen yang juga menjadi salah satu sponsor utama yakin bahwa keadaan sesungguhnya berada di tangan apabila dunia bersatu dan bekerja sama secara terpadu.

Pertemuan Tingkat Tinggi ini sengaja dirancang secara radikal inklusif dengan mengajak Pimpinan Tertinggi suatu negara untuk bersama organisasi masyarakat tingkat akar rumput dan organisasi masyarakat marginal dari setiap negara ikut serta dalam pertemuan yang bersifat global.

“Suara Anda akan di dengar,” komentar Dr. Kanem meyakinkan anak-anak muda di Bhutan dan mengajak mereka ikut dalam Pertemuan di Nairobi. Anak-anak muda dari Indonesia diajak juga ikut serta dalam jumlah yang memadai dalam pertemuan dunia yang spektakuler ini bersama ribuan anak muda dari berbagai belahan bumi.

Di samping itu dihadirkan ribuan individua termasuk Pimpinan keagamaan, aktifis muda dan aparat pemerintah terkait yang bersifat resmi, lokal dan nasional serta peserta dari kalangan perguruan tinggi ikut berpartisipasi dalam pertemuan tersebut.

Dalam konsultasi sebelumnya di Lilongwe, Malawi, Thoko Makawa, 20, di bulan Agustus menyatakan bahwa “We need our voices and ideas to be taken seriously,” dan selanjutnya menyatakan bahwa “We must make women of African descent visible,” kata Johana Bermúdez, dari Honduras, pada bulan September saat pertemuan tentang komunitas yang ditinggal di belakang. Pada saat itulah Direktur Eksekutif UNFPA menjanjikan bahwa “You will be represented there by your government, civil society organizations and youth representatives”.  Dan ternyata janji itu ditepati oleh Eksecutif Directur UNFPA Dr. Natalia Kanem dalam pertemuan Nairobi yang sangat besar tersebut.

Bagi Kenya yang berpenduduk sekitar 52,2 juta dengan tingkat fertilitas masih berada di sekitar 3,7 anak, tingkat kematian ibu hamil melahirkan sekitar 510 per 100.000 kelahiran, prevalensi kontrasepsi sekitar 65 persen, jumlah penduduk usia 10- 24 sekitar 33 persen dan partisipasi pada tingkat SMP sebesar 50 persen untuk laki-laki dan 47 persen untuk anak perempuan, Konperesnsi Nairobi ini merupakan kesempatan yang baik untuk segera “go for beyond family planning” yaitu membangun keluarga yang bahagia dan sejahtera secara terfokus dan sungguh-sungguh. Semoga. (Penulis mantan Menteri Kependudukan dan KB, Menko Kesra dan Taskin) 

About dwidjo -

Check Also

NKS Menulis Bertemu Wapres: Membahas Sadikin & Jamila

Ada rasa bungah yang membuncah. Bahagia yang tak tergambarkan. Siapa yang tak berbinar jika tokoh ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *