Home / News / Ke Banjarmasin, Melunasi Mimpi yang Tersimpan 30 Tahun  

Ke Banjarmasin, Melunasi Mimpi yang Tersimpan 30 Tahun  

Matahari belum lagi menampakkan diri. Saya dan beberapa teman juga masih di lobby hotel. Tapi bayangan suasana Lok Baintan sudah nyata. Di pagi buta itu, kami memang ingin ke pasar apung yang masyur di Lok Baintan.

Dengan sorotan lampu yang temaram, kami berhati-hati berjalan di atas dermaga yang bergoyang-goyang menuju kapal klotok.

Bagi saya, setelah merampungkan tugas-tugas utama ke Banjarmasin, ini adalah perjalanan melunasi mimpi. Benar. Mimpi melihat pasar apung yang tersimpan, mengapung dalam angan, sepanjang 30 tahun lamanya.

Dan, setelah menyisir air, menyibak sungai Martapura dari dermaga apung yang sepagi itu sudah dipenuhi kapal klotok, perjalanan terasa menyenangkan. Petualangan yang benar-benar mampu mengusir sisa kantuk. Kami menuju hulu, memburu waktu, agar bisa ikut dalam keriuahan pasar apung.

Satu kapal biasanya diisi 15 orang, namun karena kapal kami sewa maka penumpang berpencar ada yang duduk di dalam atau di atas geladak. Meski semula merasa nyaman berada di dalam lambung kapal, saya pindah ke geladak.

Tidak apa, meski harus melawan angin yang membawa dingin, ini menjadi tamasya menyenangkan setelah dua hari berkutat dengan seremoni sepanjang saya di Banjarmasin. Demi mendapatkan pemandangan yang lebih bagus, saya membiarkan tubuh agak menggigil. Toh, matahari yang mulai menyapa pagi, akan segera mengirimkan hangat.

Berada di atas geladak, saya tertegun sendiri. Ya ampun…matahari yang terlihat masih malu-malu menampakkan senyumnya di ufuk timur, memberi saya pesona. Terasa romantis, membelah arus Martapura berteman warna jingga di pagi hari.

Perjalanan ke pasar terapung di Lok Baintan membutuhkan waktu sekitar satu jam. Bisa juga lebih, karena kapal melawan arus sehingga tidak terlalu laju. Tapi justru itu, yang membuat kami bisa melihat siluet beranda belakang rumah-rumah penduduk di sepanjang sungai.

Memang. Penduduk memanfaatkan sungai Martapura untuk keperluan hidup sehari-hari seperti mandi, mencuci, bahkan memasak dan menggosok gigi. Pagi itu belum terlalu banyak aktivitas penduduk, mungkin karena masih pagi dan hari Sabtu.

Setelah berayun-ayun timbul-tenggelam, kapal mendekati pasar apun yang legendaris itu. Saya kembali membiarkan  semua ketakjuban tumpah-ruah.

Pasar Terapung Lok Baintan memang hanya bisa dijumpai di pagi hari. Jam operasinya dari jam 6 pagi sampai 8 pagi.

Begitu mendekati pasar segera beberapa acil (ibu pedagang) dengan jukungnya mengerumuni kapal untuk menawarkan dagangannya. Ada buah, sayuran, ikan air tawar kering, tas manik khas Kalimantan sampai nasi kuning dan soto banjar. Buah-buahan yang dijual kebanyakan sesuai musim yang berasal dari hasil kebun mereka sendiri.

Seolah sadar (kami lebih banyak membawa niat berfoto daripada belanja) para acil menawarkan sampannya. Kita bisa ikut duduk di sampan sambil mendayung. Sudah pasti, saya tidak ingin melewatkan kesempatan itu.

Saya memilih salah satu jukung karena dagangannya ada buah kecapi, mangga kasturi dan buah mentega yang merupakan buah langka. Sambil melompat kecil ke sampan, saya membatin, ini akan menjadi pengalaman yang asyik. Bersampan dan bergoyang bersama acil penjualnya yang terlihat gesit mendayung dan menjaga jukungnya agar tidak oleng, adalah kesempatan langka.

Hanya di pasar terapung inilah kita bisa berbelanja sambil bergoyang. Ohya di sini bila kita berbelanja ada akadnya yang harus kita ikuti yaitu penjual akan mengatakan dagangan ini saya jual kepada ibu dan saya harus membalas ya saya beli dagangan itu. Setelah itu, baru sah jual beli yang kita lakukan.

Rasanya puas bisa belanja buah buahan langka serta berkeliling dengan sampan bersama acil di pasar terapung. Kembali ke kapal klotok yang kami sewa, saya membawa oleh-oleh belanjaan yang  tak biasa.

Sudah. Pulangnya, sengaja kami tidak menuju ke dermaga awal, namun melalui dermaga Soto Bang Amat yang berjarak 30 menit dari pasar terapung. Disebut demikian karena di dermaga tersebut terdapat rumah makan Soto Banjar milik Bang Amat yang terkenal.

Hemm…begitu diberi tahu, soto di sini memiliki porsi jumbo, saya memesan setengah porsi saja ditambah ceker dan sate ayam yang bumbu kacangnya terlihat enak. Perut terasa sangat dimanjakan, karena pagi-pagi sudah diisi soto Banjar yang lezat.

Sebelum kembali ke hotel, saya sempatkan melihat lihat toko souvenir di depan dermaga untuk membeli kipas dengan motif jumputan Banjar. Siang hari sebelum ke bandara, saya juga mampir ke pasar Martapura untuk membeli beberapa kalung manik-manik yang cantik sebagai buah tangan.

Saya meninggalkan Banjarmasin dalam suasana hati yang berpendar. Apalagi, sore hari saat mendarat di bandara Soeta, kembali yang menyambut adalah langit temaram dengan jingga di kala senja.

Saat membelah jalanan Jakarta, rasanya ingin cepat-cepat sampai rumah. Setelah melulu menikmati menu Banjar, kangen juga masakan si mbok. Tapi Banjarmasin tetap memberi saya kenangan tak terlupakan. Inilah mimpi yang saya simpan sepanjang 30 tahun yang akhirnya menjadi kenyataan.

Saya berharap semoga pasar terapung Lok Baintan tak lekang oleh jaman karena merupakan tradisi yang patut untuk dilestarikan.(*)

About redaksi

Check Also

Kepemimpinan Seorang Sultan

Sampit, Koranpelita.com. Menarik membaca kisah yang diungkapkan seorang warga Kabupaten Kotawaringin Timur( Kotim) Provnsi Kalteng, ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *