Home / News / NKS Menulis Jogja-1: Mini-Reuni & Temu Rindu

NKS Menulis Jogja-1: Mini-Reuni & Temu Rindu

Entahlah. Kebetulan atau sekadar berhalusinasi. Setiap menapaki bumi Ngayogyokarto, ada setangkup haru dan rindu. Lalu, mengalirlah lirik itu. Lirik liris yang sangat hangat mengisi relung hati orang Jogja.

Agak jadul lagu itu. Yakinlah, anak-anak milenial tidak akan tahu ada lagu yang begitu mengharu-biru, sendu-merindu, sedu-menggebu.

Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu. Masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat…

Lagu tentang Jogjakarta yang pernah sangat populer milik Kla Project. Dan, pekan kemarin, lagu itu yang mengiringi perjalanan saya kembali ke Jogja.

Memang. Jogja itu, melulu merdu. Serba istimewa. Bahkan teramat istimewa, karena di Daerah Istimewa Yogyakarta ada Kulon Progo-nya. Dan Kulon Progo itu indentik dengan kesabaran. Mengapa saya persamakan antara Kulon Progo dan kesabaran? Karena Kulon Progo dan Kesabaran itu podo-podo ono Wates-e.

Tapi jangan ragukan kesabaran saya, jika sudah sampai ke Kulon Progo. Karena kesabaran saya menjadi tanpo winates, untuk menikmati segala yang mendebarkan. Suasananya, desir angin, kotanya yang itu-itu saja. Atau lintasan wajah teman-teman lama yang menggugah rindu.

Saya juga sabar, membaca ulang, lembar demi lembar perjalanan hidup saya selama berada di kota ini. Perjalanan yang sebagian sangat kecil terangkum dalam buku NKS: Alwa yang sekarang berubah riuh, tapi tetap menyisakan sisi vintage, jalanan menuju Nganjir yang di balik setiap kelok, terpahat kenangan. Juga, rumah tabon yang menyimpan semua rasa bahagia, sebersahaja apapun kebahagiaan itu.

Dan, oleh karena semua itu, selalu ada mau yang menggebu. Kemauan bermanfaat. Atau setidaknya, kemauan ikut menyukseskan program-program Kabupaten Kulon Progo, terutama program Bela Beli Kulon Progo yang luhur.

Salah satu cara yang saya lakukan adalah memilih pulang lewat Bandara Yogyakarta International Airport, setiap ke Jogja. Minimal salah satu dari mendarat atau terbang harus di Bandara Yogyakarta International Airport di Kulon Progo. Setelah itu, kulineran barang sepotong growol. Atau membeli batik geblek renteng.

Salah satu suasana mini reuni di kota kecil, Wates.

Nah, kali ini, saya tidak sekadar mampir membeli sepotong growol, makanan khas Kulon Progo yang agak-agak kecut tapi nganggeni ini. Sebab, setelah mendarat dengan selamat, saya janjian bertemu teman-teman lama. Sudah pasti sambil kulineran sebagai wujud dukungan pada gerakan Bela Beli Kulon Progo.

Sayangnya, waktu begitu memburu. Teman-teman lama saya itu, meski tinggal di Wates yang selalu santai dan alon-alon waton kelakon, ternyata sibuk juga. Tidak menjadi soal. Toh memang saya juga ingin bertemu teman SMP untuk bermini-reuni.

Sudah lama tak berjumpa. Berapa pun yang bisa ngumpul, rasanya sudah cukup sebagai obat rindu. Apalagi ditemani teh panas tanpa gula yang sudah terasa manis karena bisa melihat senyum mereka.

Saya masih mengenali beberapa teman yang dulu satu kelas, bahkan hingga ‘kelakuan’ mereka waktu itu. Tapi ada beberapa yang sebenarnya saya tak ingat betul ataupun tak kenal sewaktu SMP dulu, karena beda kelas. Teman-teman pun saya yakin banyak yang tak mengenal saya sewaktu SMP dulu. Tak lagi ingat seperti apa wajah saat sekolah bersama.

Saya agak heran, setahu saya waktu dulu di SMP rasanya masih muda-muda. Tapi kenapa sekarang seperti sudah menjadi berumur ya. Jarak memang membuat tua menjadi tak terasa. Tahu-tahu, wajah kita sudah mulai berhias keriput. He…he…he…

Saya pilih tempat yang nyaman dan lega untuk berkumpul sekitar 15 sd 20 orang. Tentu ucapan terimakasih kepada yang sudah berkenan hadir malam-malam di sebuah resto kebanggaan Kulon Progo.

Mas Supangkat Riyanto (berbaju putih) bersama para sahabat ngobrol gayeng.

Resto milik pengusaha sukses Kulon Progo yang tak lain juga teman SMP dulu. Nama restonya adalah Ayam Goreng Bu Hartin. Mas Supangkat Riyanto, sang penerus usaha yang dirintis keluarga. Kini lebih maju dari pendahulunya dengan karyawan lebih dari 90 orang.

Saya terkesan dengan konsep memberikan kesempatan kepada karyawan untuk tidak selalu hanya menjadi karyawanannya, namun bisa naik derajatnya menjadi mitra dengan membuka usaha dibantu oleh Pak Supangkat.

Lebih salut lagi ketika tahu bahwa karyawannya telah diikutkan dalam program jaminan sosial ketenagakerjaan. Tentu bukan karena saya temannya, tapi karena manfaatmya bagi karyawan dan juga resto yang dikelolanya. Dua jempol untuk sahabat saya ini. Sudah selayaknya makin maju dan sukses.

Dari reuni bersama teman-teman SMP, saya reuni dengan rumah tabon. Walau sejenak, saya memang harus mampir ke Nganjir. Bisa kuwalat kalau sudah sampai Wates tapi tidak mampir. Apalagi, di sanaada Mbakyu saya, kakak nomor tiga dari 7 ber’su’dara yang sudah pasti memiliki nama diawali dengan ‘Su’.

Sumarjono dan 7 berSUdara

Pulang ke Nganjir, sebenarnya bukan sekadar bertemu Mbakyu, tapi juga karena wasiat almarhum kedua orangtua yang terus melekat. Pesan agar anak-anak keturunan dapat tetap rukun walau lem perekat tak lagi ada. Lem perekat yang dimaksud adalah kedua orangtua.

Dari Nganjir dikejar malam, akhirnya tak sempat menikmati gelap di rumah tabon. Sebab, bersama yang makin larut, saya harus kembali ke kota Jogja, menyiapkan diri tugas berat esok hari. Lelah tapi bungah.

Lalu, dengan bekal lelah yang bungah, rebah  menjadi lelap. Benar saja, saya terlelap tanpa sempat bermimpi. Ketika matahari mengintip pagi, badan sudah sumringah menyambut indahnya hari. (bersambung)

About redaksi

Check Also

Teknologi dan Kompetisi Geopolitik Mengubah Karakter Pertempuran

Oleh : Dede Farhan Aulawi Diskursus terhadap kemungkinan masih akan terjadi atau tidaknya peperangan konvensional ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *