Home / Daerah / CNL BHS Manjur Dipertanyakan, Kebutuhan Masyarakat Atau Pencitraan

CNL BHS Manjur Dipertanyakan, Kebutuhan Masyarakat Atau Pencitraan

Cianjur, Koranpelita.com

Kegiatan Cianjur Ngawangun Lembur (CNL) yang dibidani pemerintahan dinasti Tjetjep Muchtar Soleh/Irvan Rivano Muchtar non aktif yang sekarang dilanjutkan Plt Bupati Cianjur, Herman Suherman, dan namanya dimodivikasi menjadi CNL BHS Manjur (Bersama Herman Suherman Membangun Cianjur), diduga membuat para kepala desa harus menyelewengkan anggaran puluhan juta rupiah.

Tidak hanya itu, untuk sebuah acara seremonial seperti itu, harus menggiring masa untuk mengadakan acara tersebut, “Bukan tidak manfaat tetapi harus dipikirkan dengan kondisi ekonomi saat ini. Apakah acara tersebut merupakan kebutuhan masyarakat atau hanya sekedar pencitraan dan ajang mendongkrak populeritas saja,” tanya Farid Sandi dari Cianjur Aktivis Independen (CAI) kepada Koranpelita.com, Kamis (15/8).

Anggaran puluhan juta rupiah untuk sebuah acara yang hanya satu hari, rasanya kurang tepat disaat kondisi masyarakat yang sangat membutuhkan percepatan ekonomi dan kesenjangan sosial yang semakin hari semakin tinggi.

Kalaupun anggaran puluhan juta untuk CNL itu diberikan untuk masyarakat dalam bentuk usaha yang produktif sehingga memperdayakan masyarakat dan bisa membuat jauh lebih manfaat.
Anggaran Untuk pelaksaan CNL tersebut juga perlu di evaluasi terutama oleh APH untuk menciptakan pemerintahan yang bersih. Disusul banyaknya ASN yang terjerat kasus tindak pidana korupsi.

“Dari mana anggaran tersebut ada.,? Apa dasar hukum.nya mengeluarkan anggaran. Apakah para kepala desa membuat karangan palsu pertanggung jawaban LPJ atau mengarang indah terkait pemasukan pos anhgaran CNL,” tanyanya.

Aparat penegak hukum harus bisa melakukan Investigasi dengan baik apa yang selama ini terjadi itu harus terungkap secara jelas, “Bukan hanya itu dasar dan kekuatan hukum mengenai keberadaan CNL dan Penganggaran CNL juga patut di evaluasi,” ujarnya.

Lebih lanjut mempertanyakan, ada tidak perbup-ya. atau perda. Kalaupun ada apakah aturan tersebut bisa selaras dengan UU atau malah kontradiktif dan bagaiama efek dan manfaatnya keberadaan CNL.

Pertanyaan lainnya yang dilontarkan Farid, apakah setelah diadakan CNL tingkat kemiskinan masyarakat berkurang, tingkat pengangguran berkurang, tingkat kesejahteraan meningkat, “Itu semua perlu dipikirkan, buat apa membuat acara yang tidak terlalu penting dan cendrung memboroskan anggaran demi sebuah pencitraan menjelang pilkada,” ucapnya. (Man Suparman).

About dwidjo -

Check Also

Warga Kotim Sepuluh Tahun Terbaring Sakit Hanya Bisa Minum Susu

Sampit,koranpelita.com. Camat Pulau Hanaut Kabupaten Kotawaringin Timur ( Kotim) Provinsi Kalteng,Ir.Eddy Mashami menginformasikan via ponselnya ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *