Home / News / NKS Menulis-3: Beginilah Cara Memperlakukan Disable

NKS Menulis-3: Beginilah Cara Memperlakukan Disable

Hari berganti. Kegiatan sesungguhnya tiba. Selepas sarapan, yang saya yakin menunya akan diulang tiap harinya selama seminggu, saya beserta rekan dari Bappenas dan Giz Indonesia menuju kantor pusat Giz.

Pagi diawali dengan perkenalan. Kami saling memperkenalkan diri, dari Giz Jerman, Giz Indonesia, Bappenas, serta tentunya, BPJS Ketenagakerjaan. Agenda padat segera dimulai setelah penjelasan bagaimana pemerintah Jerman sangat peduli pada penyandang disabilitas. Tujuannya saangat mulia, agar mereka bisa mendapatkan hak yang sama seperti yang normal.

Peraturan perundang-undangan Jerman sangat baik melindungi penduduknya yang kebetulan mengalami kecacatan. Mulai dari yang disable sejak lahir atau yang menjadi disable karena kecelakaan dan alasan lainnya.

Tentu ada ukuran yang dinilai oleh para ahli untuk menentulan tingkat kecacatan seseorang. Penentuan ini penting terkait dengan pelatihan yang perlu diberikan, penyaluran kerja, dan manfaat lain dari program pemerintah yang ada.

Di Jerman, institusi (pemerintah atau swasta) yang mempekerjakan pegawai dalam jumlah tertentu harus menerima pekerja dari penyandang disabilitas dalam kuota tertentu. Jika kuota ini tidak dipenuhi, akan dikenai denda. Uang denda ini dipakai untuk membiayai pelatihan serta mensupport gaji pekerja penyandang disabilitas.

Selain itu, tentu saja pemerintah Jerman secara langsung ataupun melalui kepanjangan tangannya, turut memikirkan (termasuk melakukan pelatihan dan pendampingan) para pekerja dari kaum disabilitas.

Masih ada lagi. Sebab, pemerintah juga memprasyaratkan agar infrastruktur mengakomodasi kebutuhan untuk kaum disabilitas. Sebuah gedung misalnya, harus dilengkapi dengan yang dapat memudahkan kaum disabilitas untuk memasukinya.

Menarik memang. Pemerintah Jerman begitu besar, memberi perhatian kepada penyandang cacat. Mereka tidak dibiarkan bersaing begitu saja dengan yang tidak cacat, sehingga kesejahteraannya juga membaik.

Teori yang berisi peraturan selesai diceritakan, termasuk beberapa perkembangannya. Lalu, kami diajak menuju kawasan Wurgwald. Perusahaan yang kami tuju adalah Osborn. Perusahaan multi company ini fokusnya membuat sikat untuk membersihkan peralatan termasuk mesin.

Menuju Osborn dibutuhkan waktu dua jam. Bus berangkat sangat pagi, karena pada pukul 9.30 Osborn telah menanti. Jadilah, meski belum sempurna betul membuka mata, perjalanan harus dimulai.

Dan, menuju Osborn adalah dua jam yang menyenangkan. Sebab, begitu keluar kota yang dijumpai persawahan dengan gandum dan jagung yang disepuh warna keemasan. Terlihat, dalam bayangan yang berlarian, aktivitas panen gandum dan jagung yang rasanya membahagiakan.

Melihat hamparan jagung, ingatan masa kecil berlesatan. Ingatan anak desa yang selalu muncul setiap melihat persawahan. Saya, begitu saja merenda ulang mimpi menjadi petani yang dulu pernah ada muncul Bukan petani biasa. Tapi petani modern: memiliki lahan luas dan cara tanam serta pengolahan yang modern.

Bus meliuk pada sebuah tikungan, membuat mimpi jadi petani ambyar. Rupanya, kami sudah dibawa keluar tol dan masuk ke perkampungan. Lebih jauh lagi hingga tiba di pinggiran hutan. Papan nama menunjukan bahwa inilah akhir perjalanan sepanjang dua jam sejak pagi buta.

Osborn. Pabrik modern yang mengagumkan. Serba canggih tapi tetap manusiawi. Sebab, Osborn mempekerjakan puluhan karyawan dari kaum disabilitas. Khususnya mental disability. Sayangnya, di  tempat ini ada peraturan dilarang berfoto-foto ria.

Seorang manager di Osborn menjelaskan bahwa perusahaannya ikut aktif dalam merehabilitasi kaum disabilitas. Osborn mempekerjakan karyawan yang khusus memahami mental disability untuk kemudian turut membimbing, mentraining, konseling, dan mengawasi mereka.

Ada sebuah penghargaan dari pemerintah terpampang di salah satu sudut ruang tamu. Penghargaan sebagai perusahaan yang ikut mempelopori serta memberi kepedulian kepada kaum marginal, kaum disabilitas. Pemerintah Jerman juga memberikan insentif untuk Osborn dan perusahaan yang mempekerjakan disabilitas.

Di sisi lain, ada lembaga training yang khusus menangani peningkatan keahlian kaum disabilitas. Vocational training bagi kaum disabilitas.

Semua memang sudah tertata rapi. Mulai dari peraturan hingga pelaksanaan telah terbangun dengan baik. Termasuk di dalamnya sistem kontrol serta bagaimana mengatasi persoalan pendanaan.

Tentu, ini pekerjaan besar yang tidak bisa hanya menjadi tanggungjawab pemerintah saja. Sisi pemberi kerja yang rela memberi kesempatan bagi pengembangan diri kaum penyandang disabilitas, juga sudah terbangun. Kesadaran juga terbangun dengan baik, sehingga jika pemberi kerja tidak memenuhi kuota, mereka akan berkontribusi dari sisi pendanaan.

Perusahaan sebagai pemberi kerja pun diharuskan mengikuti jaminan sosial. Dan jaminan sosial inilah yang menjadi salah satu sumber pendanaan untuk rehabilitasib dan vocational training.

Selesai sudah tour tentang cara memberi peduli pada penyandang cacat. Selanjutnya, rehat. Di hari ketiga, kami diajak Giz untuk mencoba berwisata air. Menaiki kapal, kami menyusuri sungai Main (Main River). Selama 50 menit. Meskiwaktu yang tidak terlalu lama, tapi terlihat bagaimana bersihnya air sungai Main.

Terakhir, saya mampir di love lock bridge. Ini jembatan cinta. Banyak muda-mudi yang meyakini jika mengikatkan gembok di jembatan ini, maka cinta mereka akan langgeng selamanya.

Saya berusaha memahami keyakinan anak-anak muda yang sedang dilanda asmara. Jadi di jembatan itu pula, saya berikan Buku NKS kepada Pak Maliki dari Bappenas. Harapannya bahwa buku NKS pun dicintai selamanya.

Salam NKS: Nami Kulo Sumarjono

 

 

About redaksi

Check Also

Kajati NTT Terima Aset Koruptor Adrian Waworuntu yang Dirampas untuk Negara

Kajati NTT Fathor Rahman disaksikan Jaksa Agung HM Prasetyo menandatangani dokumen penyerahan aset koruptor  Adrian ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *