Home / News / Hari-hari menjadi Pangsiunan

Hari-hari menjadi Pangsiunan

Tulisan ini, saya buat setelah beberapa pekan terakhir bertemu teman-teman yang baru saja menikmati pensiun maupun yang sudah pensiun. Sebuah catatan, terutama untuk diri sendiri, yang mau tidak mau, meniti hari-hari menjadi pengsiunan (juga).

Sepanjang catur windu alias 30 tahun lebih, kita terbiasa bekerja rutin dari jam 8 pagi sampai 8 malam. Setiap hari memiliki kesibukan dari bangun pagi, memilih baju yang akan kita pakai, kemudian menyiapkan bawaan ke kantor, dan mengerjakan tugas. Atau, menghadiri rapat berjam-jam sampai pinggang pegal karena tegang dan kurang minum untuk kemudian kembali ke rumah hanya sekadar singgah merebah: tertidur oleh sebab kelelahan.

Hanya sesekali saja, di antara jadwal yang rutin dari pagi hingga petang, terselip kemewahan kecil bisa rehat, makan di luar bersama teman kerja. Lalu, ngobrol ngalur ngidul sambil menyeruput teh poci dan pisang goreng.

Selanjutnya, dari kesibukan yang seperti berjejalan, kemudian pensiun, akan ada sesuatu yang hilang dalam seketika. Sudah terbayang, suasana njomplang itu. Suasana yang membuat gamang, binggung, atau malah membuat mutung.

Kesibukan apa yang akan kita lakukan untuk mengisi waktu? Pertanyaan ini, seperti menohok ulu hati diri sendiri.

Berdasarkan penjelasan teman yang sudah pensiun, ada beberapa reaksi  yang agak-agak mencemaskan. Ada yang mengatakan malu kalau akan main ke kantor karena sudah pensiun. Sedang yang lain mengatakan, kalau ketemu teman yang masih bekerja atau menjabat nanti disangka minta pekerjaan dan minta bantuan.

Mereka, para pensiunan itu, sepakat mengatakan bahwa enaknya pensiun hanya pada bulan pertama saja. Karena selebihnya merasa bosan. Agak terkejut saya mendengar penuturan itu. Apa memang semengenaskan itu nasib seorang yang sudah pensiunan?

Saya sulit mencerna, karena memang belum pensiun. Saya juga belum bisa meraba suasana melodrama menjadi pangsiunan (pengsiunan itu cara melafalkan orang-orang tua di desa). Namun cerita teman-teman itu, menggelitik hati dan pikiran saya. Apakah nanti setelah pensiun saya akan mempunyai perasaan yang sama? Saya harus berbuat apa supaya tidak muncul perasaan sensi seperti ini?

Sebenarnya sejak awal saya justru iri pada teman-teman yang sudah lebih dahulu pensiun. Dalam bayangan saya, mereka bisa leluasa mengatur waktu untuk diri sendiri: bisa menikmati secangkir teh poci yang legit sambil menonton berita di TV atau bermalas-malasan di singgasana peraduan tanpa harus bangun pagi untuk kerja. Kemudian (ini yang paling menyenangkan) bisa liburan kapanpun waktunya.

Ya, itu yang terbayang oleh saya ketika pensiun nanti. Bahkan pernah terpikir untuk menjadi Abdi Dalem di Keraton. Nah loh. Sebuah keinginan yang aneh, apalagi bagi saya yang memiliki jiwa pemberontak.

Impian lain setelah pensiun adalah ingin tinggal di kota kecil atau bahkan di desa yang sejuk dan damai. Dalam pandangan saya, di desa, orang-orangnya  masih perduli kepada sesama. Guyup, penuh bertegur sapa.

Terbayang ketika saya ke pasar naik andong atau jalan kaki sambil membawa keranjang belanjaan, akan terdengar sapaan yang khas, “badhe tindak pundi bu?”

Mendengar sapaan itu rasanya adem, mak nyes di dalam hati. Kemudian saya akan menjawab dengan suara yang tak kalah dibuat lembut, “Teng peken bu,” yang segera terdengar lagi jawaban, “oh monggo monggo.”

Benar. Percakapan seperti itu, tidak akan saya dapatkan di kota besar seperti Jakarta yang masing-masing warganya memiliki kesibukan ruarrr biasa. Kesibukan yang membuatnya tidak sempat menyapa tetangga kanan kirinya.

Kembali ke persiapan pensiun, sejatinya saya juga belum tahu akan melakukan apa untuk mengisi hari-hari yang biasanya penuh kesibukan. Padahal, pensiun saya tinggal 2,5 tahun lagi, tepatnya saat usia mencapai 60 tahun.

Gurauan saya saat ini adalah  inginnya punya waktu seperti pangsiunan tapi penghasilan seperti pejabat. Apakah mungkin? Pasti mungkin apabila kita telah menyiapkan segala sesuatu dengan baik. Namun apakah penghasilan cukup yang dicari? Bagaimana kalau kitanya sakit?

Rentetan pertanyaan itu masih akan panjang. Misalnya saja, siapa teman atau sahabat yang bisa menemani jalan bersama? Perasaan galau mulai muncul apalagi saya tidak terbiasa untuk hidup tanpa ada orang di sekeliling saya.

Beruntung, dalam jangka pendek, sudah ada dalam bayangan beralih profesi menjadi MC alias Momong Cucu. Tapi ya memang tidak bisa terus-terusan jadi MC, karena anak cucu akan mempunyai kesibukan sendiri. Juga sahabat kita, satu satu menjauh.

Huuuh…saya tarik nafas panjang, untuk melegakan rongga dada. Pensiun memang harus dipersiapkan, supaya tetap bahagia dan sejahtera. Jadi jangan lupa, karena jaminan hari tua dan jaminan pensiun sangat penting untuk menjaga kesejahteraan di masa tua, kita wajib terdaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan.

Oke, akhirnya saya bertekat menghadapi masa pensiun dengan tersenyum. Saya juga sudah menuliskan daftar rencana kegiatan yang akan dilakukan setelah pensiun nanti antara lain tinggal di Dusun Mbalong Samigaluh Kulon Progo, ngajak cucu jalan-jalan cinta Indonesia, belajar nggamel/niyogo, nikmati kuliner dan kain Nusantara, serta diving yang aman bagi lansia.(*)

About redaksi

Check Also

DPR RI Raih Penghargaan Indonesia Digital Initiative Awards 2019

Jakarta, Koranpelita.com Ketua DPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) kembali dibanjiri penghargaan. Kali ini datang dari ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *