Home / News / Bedah Buku NKS-1: Ada Nasi Goreng Kencur Saat Saya Kembali ke OJK

Bedah Buku NKS-1: Ada Nasi Goreng Kencur Saat Saya Kembali ke OJK

Hari Jumat, 12 Juli 2019, saya kembali ke OJK. Atau Otoritas Jasa Keuangan. Deg-degan juga saat  bertemu lagi dengan suasana  tempat para Pengawas INBK OJK berkantor.  Suasana inilah yang pernah selama bertahun-tahun saya akrabi.

Menyusur selasar kantor, langkah dibawa ke ruangan agak lapang. Kemudian, langsung ke meja makan, yang ternyata sudah berpacak-baris menu sarapan pagi yang pepak, komplet, dan menggiurkan. Ada nasi goreng kencur. Ini, sudah terkenal di seisi kantor OJK. Lalu, rempeyek kacang ijo dan rempeyek kacang tanah. Ini juga ngetop.

Orkestrasi sarapan pagi semakin lengkap dengan kerupuk gendar (ada yang menyebut legendar, ada juga yang biasa menamai karak), tahu bacem, tempe goreng, potongan ketimun serta sambal yang terlihat nikmat. Semua dibawa dari rumah Ibu Anggar, yang punya ruangan lega itu tadi. Nah, yang terakhir, yang tak kalah legendaris adalah  tahu susur dengan ukuran jumbo.

Sebagai tuan rumah, Bu Anggar juga terlihat cak-cek, cekatan menyugoto tetamu. Semua dipersilakan menyicipi yang tersedia di atas meja. Usai sarapan, masih ada lagi yang disaji, dua toples ukuran sedang serta satu lodong kecil. Kue-kue kering yang juga dibawa dari rumah.

Alhamdulillah, pulang ke OJK ternyata mengenyangkan. Suasana akrab seperti inilah yang membuat saya tertarik untuk balik ke OJK, suatu hari nanti. Suasana yang tidak banyak berubah. Termasuk (nah ini yang membuat melas) wajah-wajah lelah itu.  Wajah-wajah yang  menyimpan ketegangan kerja, karena memang di sinilah segala yang berhubungan dengan jasa keuangan  diatur dan diawasi. Saya bisa merasakan itu, karena pernah menjadi bagian dari mereka.

Dan, saya datang Jumat pagi itu, terutama untuk menghibur sahabat-sahabat saya ini. Meski pasti, acara resminya bukan hiburan, melainkan Sharing Session dan bedah buku Nami Kulo Sumarjono. Saya membawa buku NKS alias Nami Kulo Sumarjono untuk kuis (sekadar antisipasi jika suasana terlalu serius, tegang, dan tidak menyenangkan). Nah, di sinilah letak hiburannya.

Jadilah, wajah-wajah lelah tadi itu (mereka berasal dari bidang pengaturan dan pengawasan Industri Keuangan Non Bank OJK, jadi bisa dibayangkan kelelahan akibat beban kerja yang berat), bisa tertawa-tawa bahagia.

Rasanya, hari itu, menjadi setengah hari yang sangat menyenangkan. Ruang Wayang Wisma Mulia 2, yang menjadi tempat bedah buku, penuh. Sampai hampir Sholat Jumat, peserta belum beranjak. Menyenangkan sekali.

Mereka tertawa lepas. Seolah hilang seluruh beban kerja, meski tawa mereka membuat saya agak khawatir, karena mungkin menertawakan saya. Atau jangan-jangan, menertawakan kisah dalam buku NKS yang (celakanya) adalah kisah sedih.

Tapi okelah. Silahkan tertawa. Saya ikut bahagia, membuat mereka bahagia. Apalagi, ada kehormatan dan kebanggaan sekaligus, karena acara dibuka oleh dua petinggi Pengawas IKNB OJK. Dua petinggi ini, duduk bersama 100an orang, atau mungkin 130an tepatnya.

Saya melihat, semua kursi yang tersedia terisi, bahkan yang di barisan belakang, rela untuk duduk di karpet lantai. Mungkin, mereka rela hadir karena para atasannya ikut hadir bahkan pada level Kepala Departemen dan level Direktur. Atau (ini harapan yang mendebarkan) bisa jadi mereka rindu karena sudah tiga tahun saya meninggalkan OJK untuk sementara.

Kemasan bedah buku tergolong apik. Saya tidak menyangka, orang-orang yang biasa sangat serius, bisa mengemas sebuah kegiatan (di luar urusan jasa keuangan) dengan baik. Buku yang akan dibedah disusun rapi, memenuhi meja depan dan meja di luar ruangan, sehingga langsung bisa terlihat. Mereka yang tertarik dengan buku ini juga bisa memesannya.

Sebelum acara bedah buku, ada live music dari gitaris kondang serta vokalis handal kebanggaan Pengawas IKNB OJK. Begitu juga saat jeda, suara merdu diiringi genjrengan gitar yang pas membuat suasana segar kembali. Pemilihan lagunya pun seperti sengaja dirancang untuk menyambut saya. Karena lagu itu, lagu kesukaan saya.

Bedah buku dipandu oleh moderator yang punya kepiawaian dalam menulis bahkan sudah menerbitkan beberapa buku. Tentu menjadi beban tersendiri buat saya yang bukunya tidak ditulis sendiri, tapi minta bantuan orang lain agar cerita mengalir indah tak membosankan pembacanya.

Bu Anjar. Atau, tepatnya Mbak Anjar karena masih sangat muda. Dialah moderator bedah buku kali ini. Mbak Anjar bercerita di awal acara bahwa ia sudah membaca buku NKS. Tuntas. Bahkan diulang dua kali membacanya. “Apa bagusnya ya Mbak?”  kata saya dalam hati walau sejujurnya tersanjung.

Saya lalu diperkenalkan kepada audience walau sebenarnya perkenalan yang tidak terlalu perlu. Mengapa? Sebagian besar peserta bedah buku merupakan rekan kerja sewaktu di Kementerian Keuangan ataupun di OJK. Lagi pula, yang akan dibahas sepanjang tiga jam adalah benar-benar sosok yang ada dalam buku NKS itu sendiri.

Dasar sang moderator seorang penulis, dua pertanyaan berat langsung disodorkan. Sangat menggelitik, karena banyak pertanyaan serupa itu: mengapa (dan apa tujuan) menulis buku NKS, mengapa diberi judul Nami Kulo Sumarjono yang sangat njawani dan terkesan ndeso?

Saya izin untuk berdiri sebelum menjawab pertanyaan. Dengan berdiri, harapannya bisa mengambil nafas panjang dan mendapat tambahan ruang waktu berfikir. Padahal (ini alasan yang agak memalukan) dengan berdiri, saya berharap terlihat lebih tinggi seperti dalam pepatah, duduk sama rendah, berdiri sama tinggi. Namun pepatah itu mungkin berlaku untuk yang lain. Buat saya, duduk sama rendah, berdiri sama saja. Karena memang saya tidak tergolong tinggi.(bersambung)

About redaksi

Check Also

Kajati NTT Terima Aset Koruptor Adrian Waworuntu yang Dirampas untuk Negara

Kajati NTT Fathor Rahman disaksikan Jaksa Agung HM Prasetyo menandatangani dokumen penyerahan aset koruptor  Adrian ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *