Home / News / NKS Menulis-1: Bangkok Undercover

NKS Menulis-1: Bangkok Undercover

NKS Menulis dua pekan lalu, temanya amat serius. Tentang oleh-oleh menghadiri acara yang tidak ringan: Meeting tahunan Asia Pacific Annual Meeting Society of Actuaries 2019 tanggal 17 sd 18 Juni 2019 di Bangkok.

Nah, pada NKS Menulis pekan ini, akan dikisahkan cerita ringan di sela-sela acara  yang tidak ringan itu. Ya, semacam (atau pura-puranya) laporan pandangan mata, melihat-lihat Bangkok yang di beberapa sudut tak banyak berbeda dengan sisi-sisi Indonesia.

Cerita diawali dengan perjalanan menuju Bangkok. Menggunakan maskapai BUMN kebanggaan bangsa, burung besi itu mendarat mulus di gerbang masuk Ibu Kota Thailand, Bangkok: Suvarnabhumi Airport.

Tiba-tiba, ada hasrat melepaskan timbunan air yang walau telah berusaha membuangnya di toilet pesawat di suatu ketinggian, tetap bersisa dan membuat tubuh tidak nyaman. Tentu, dengan gegas, langkah kaki dibawa ke toilet pria yang ada simbol atau tanda gambar lelaki. Dan ada tulisan MEN.

Sepi di toilet. Sambil berdiri (semoga jika ada murid NKS, tidak buang air sambil berlari seperti pepatah lawas, guru….berdiri, murid…berlari).Senyap sesaat, tak lama ada yang masuk juga.Tapi apa yang terjadi? Hati tratapan (ini kalau diterjemahkan dalam bahasa Indonesia kira-kira artinya kaget yang bercampur takut, bersemu malu, ditingkah jengah). Sebab, yang masuk seorang perempuan muda. Waduh…baru tiba di Bangkok saja sudah diberi kejutan begini rupa.

“Ndak salah masuk toilet kan saya?”  suara hati, berusaha menguasai perasaan. Rasa-rasanya sih saya sudah masuk pada tempat yang benar. Apalagi disediakan toilet berdiri, tambah yakin. Meski berusaha menguasai risi, rikuh, dan tidak nyaman, tapi anehnya saya lihat perempuan yang baru masuk toilet bertuliskan MEN itu, justru sangat biasa.Tenang serta tidak lirak-lirik.

Setelah hilang rasa tratapan tadi, lalu bisa berfikir lebih jernih, baru paham bahwa perempuan itu ternyata petugas cleaning service. Tugasnya di toilet pria. Rupa-rupanya, di Bangkok, pekerjaan membersihkan toilet diasosiasikan dengan pekerjaan seorang perempuan, sehingga walaupun di toilet pria, petugas kebersihannya tetap seorang perempuan. Woalah

Pelancong Indonesia

Tidak tahu apa penyebabnya. Tapi barangkali kita, orang Indonesia yang ke luar negeri adalah bagian dari yang sering melakukan kebiasaan ini. Tiga kebiasaan utama yang terekam dalam ingatan: belanja, toilet, dan selfie.

Belanja. Ini kebiasaan yang sudah sangat terkenal. Negara lain tentu senang dengan kebiasaan ini. Mereka menjadi sangat ramah, begitu tahu yang menghampiri dagangannya orang Indonesia. Sampai-sampai mereka rela belajar bahasa Indonesia agar bisa melayani pelanggan terbaik dari negeri yang penduduknya dikenal sebagai pembelanja fanatik.

Lihat saja pedagang di Saudi Arabia, di Mekah, dan di Medinah. Juga, pedagang di Bangkok. Maka datanglah ke Chatuchak, pasar tradisional terbesar yang hanya buka secara lengkap hari Sabtu dan Minggu.

Seperti tidak tergerus oleh revolusi industri 4.0, Chatuchak sangat ramai dikunjungi pembeli domestik dan turis asing. Pasar Chatuchak merupakan surganya para perempuan yang dikodratkan sebagai penikmat belanja yang menghayati seni tawar menawar.

Memang, banyak yang bisa didapatkan di pasar ini mulai dari pakaian, asesoris, kerajinan, makanan, galeri, furnitur, buku, lampu, dan banyak lagi. Meski menjadi surganya para perempuan, tempat ini, bisa jadi neraka bagi para lelaki yang menemani.

Apa boleh buat. Hanya kaki kelelahan yang bisa menghentikan langkah para perempuan penikmat belanja. Mereka seolah tak pernah terkendala urusan finansial untuk berbelanja, karena harga barang yang murah. Oh iya, ada satu lagi yang menghentikan kaum hawa belanja yaitu koper tambahan yang tak muat lagi.

Bosan belanja di pasar tradisional Chatuchak? Tempat belanja yang lain pasti menanti. Sebut saja MBK, sebuah mall legendaris yang menawarkan barang branded, meski ada juga yang tidak punya brand. Barang yang sama dijual di Chatuchak pun banyak dijumpai. Masih kurang? Banyak mall dan pasar modern seperti Platinum, Central World, Siam Paragon, atau Terminal 21.

Satu lagi. Di tempat wisata Wat Arun, ada pasar kecil yang juga terkenal dengan kaos putih Thailand yang murah. Penjualnya rata-rata bisa berbahasa Indonesia dengan lancar.

Jika sudah kelelahan berbelanja, pelancong Indonesia biasanya, akan reriungan, desak-desakan, antre, ke kamar kecil. Ya semacam wisata toilet. Datanglah ke Bangkok, di pasar atau di mall, setiap kali ke toilet, akan bertemu saudara sebangsa setanah air.

Nah, seolah mengetahui kebiasaan orang Indonesia yang jika ke luar negeri tak bisa dipisahkan dengan toilet, di Mall Terminal 21, rest room dirancang dengan konsep seolah kita mendarat di kota-kota besar dunia. Toilet di setiap lantai berbeda konsep.

Dengan begitu, kita cukup selfie (ini kebiasaan ketiga orang Indonesia jika ke luar negeri) di toilet di setiap lantai bisa menunjukkan seolah-olah sudah mengunjungi banyak kota seperti San Fransisco, Tokyo, London, Roma, Istambul dan sebagainya. O ya, jangan khawatir, aroma toilet tidak terlalu menyengat, karena petugas kebersihan sigap setiap saat. Dan pasti, petugas kebersihannya seorang  perempuan, walau di toilet laki-laki.

Oke. Jika belum juga puas ke pasar tradisional atau ke mal, bersiaplah wisata belanja di malam hari. Ada Asiatique yang merupakan tempat wisata belanja malam hari yang tidak kalah pesonanya. Baru buka pukul 18.00 (kecuali hari tertentu buka lebih awal pada pukul 17.00) dan akan tutup pukul 24.00. Barang yang dijual kurang lebih sama dengan yang dijual di Chatuchak atau di Platinum atau  MBK.(bersambung)

About redaksi

Check Also

Renovasi Masjid Istiqlal Ditargetkan Selesai Maret 2020

Jakarta, Koranpelita.com Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menargetkan renovasi Masjid Istiqlal, ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *