Home / News / NKS Menulis: Cerita Dua Anak Muda di BPJSTK

NKS Menulis: Cerita Dua Anak Muda di BPJSTK

Ini hanya catatan pendek. Juga sederhana. Namun karena membuat gembira, maka sesederhana apapun peristiwa itu, tetap saja memberi arti. Jadilah, catatan kecil ini dimaksudkan sebagai pengingat. 

Kemarin, 2 Juli 2019, sebelum istirahat siang, salah satu Deputi Direktur meminta waktu bertemu. Pak Pram, begitu Deputi Direktur Bidang Aktuaria ini biasa disapa. Maka, tanpa ragu, waktu yang diminta diberikan. Toh tidak mengurangi waktu tidur siang, karena saya jarang tidur siang. Apabila di kantor.

Ini agak tidak biasa, karena Deputi Direktur menghadap ditemani dua staf. Yang satu cantik,  yang satunya lagi ganteng. Dua anak muda itu berseri-seri. Seolah ada kegembiraan yang ingin disampaikan, walau penyampaiannya tidak langsung, namun lewat perantara Deputi Direktur (Depdir).

Dan benar.  Pak Pram menceritakan dua prestasi anak muda yang mendampinginya. Pertama, prestasi Nanda (atau lengkapnya, Nanda Dellina Putri) yang lulus 10 mata ujian aktuaria yang diselenggarakan oleh Persatuan Aktuaris Indonesia.

Dengan begitu, sebentar lagi Nanda berhak menyandang gelar FSAI (Fellow Soceity of Actuary of Indonesia). Tapi yang lebih hebat, ujian tersebut dilahap hanya dalam dua tahun. Wow.

Perlu dipahami ujian PAI, adalah sesuatu yang  tidak mudah, sehingga jarang ada yang bisa menyelesaikan 10 mata ujian secepat itu. Selamat untuk Nanda yang usianya masih sangat belia, terlebih untuk mampu lulus ujian PAI.

Tentu kabar itu, merupakan kebanggaan bagi saya dan institusi karena memiliki talent yang luar biasa. Teruslah berkarya untuk institusi dan untuk negeri tercinta. Terima kasih juga untuk Pak Pram yang sudah menepati janji dalam menambah FSAI dan langkah kaderisasinya.

Sambil menjabat erat dan mengucap selamat, saya meminta Nanda untuk bekerja cerdas serta profesional. Menjunjung tinggi integritas agar tidak tergoda oleh rayuan yang mungkin menawarkan kemewahan di tempat lain.

Institusi ini membutuhkan lebih banyak talent seperti dirinya sehingga yakinlah tidak akan menyia-nyiakan aset yang dimiliki. Selamat untuk Nanda FSAI (eh maaf PAI, ada satu proses lagi untuk sah menyandang FSAI).

Nah, cerita kedua Pak Depdir tentang anak muda satu lagi yang mendampinginya. Vicky Fauzi Akbar namanya. Ia akan segera meninggalkan Indonesia untuk belajar S2 Actuarial Science di University of Waterloo, Canada.

Ia menjadi salah satu dari beberapa anak muda hebat yang memperoleh beasiswa dari READI Project. Bukan biaya pribadi, bukan biaya institusi. Padahal, seleksi untuk bisa masuk University of Waterloo, universitas terbaik di Kanada untuk program studi Actuarial Science, bukan lah hal yang mudah.

Saya menjabat tangannya secara erat seraya mengucap selamat. Semogalah, itu, menambah mantab langkah meraih gelar master. Rasanya memang tidak cukup hanya menjabat tangannya dengan erat, beberapa pesan saya titipkan, layaknya orangtua terhadap anaknya yang akan pergi jauh dalam waktu yang tidak sebentar.

“Rajin belajar, jalin pertemanan dengan rekan kuliah dari berbagai negeri, terus jalin komunikasi dengan para profesor.” Pesan yang tentu saja umum diucapkan siapa saja kepada anak yang mau sekolah lagi.

Tapi saya masih meneruskan pesan itu dengan pesan lain, “pelajari budayanya,  ambil yang bagusnya, jangan tiru yang tidak bagusnya. Jalan-jalan, dan yang nggak kalah penting adalah meraih penyetaraan atau lulus ujian Society of Actuary (SOA) dengan target saat master didapat, demikian juga gelar ASA diraih,”  begitu kira-kira petuah panjang yang tidak sadar saya diberikan.

Oh iya, satu lagi pesan penting: kunjungi Montreal dan Quebec City yang indah tak lupa disampaikan karena jika sudah kembali ke Indonesia akan sangat mahal untuk bisa mengunjungi tempat yang perlu waktu lebih dari 20 jam penerbangan itu.

Saking asyiknya memberi selamat dan petuah, sampai lupa foto bersama. Beruntung, ada kesempatan bertemu lagi, di sela-sela acara penyerahan Paritrana Award, di Istana Wakil Presiden, tadi pagi, 3 Juli 2019.

Untuk menutupi alasan mau foto bersama yang terlupa, saya mengucap selamat kembali untuk Nanda dan Vicky. Lalu, foto-foto dengan bergantian yang mendampingi deputi direkturnya. Congratulation.(*)

About redaksi

Check Also

 NKS Menulis Ambon -1: Misteri Masjid Tua Wapauwe Ambon

Nama saya Sumarjono. Tapi saya lebih nyaman menyebut, Nami Kulo Sumarjono. Dan, inilah kisah perjalanan ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *