Home / Profil / Supinah, Sebatang Kara Menapaki Hari Berjualan Kue di Sampit

Supinah, Sebatang Kara Menapaki Hari Berjualan Kue di Sampit

Sampit,Koranpelita.com.

Siang itu langit di atas Kota Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur ( Kotim ) Provinsi Kalteng sedikit mendung.Terlihat Supinah ( 50) penjual kue keliling melintas di depan rumah jurnalis media ini di Sampit.

Jalan yang berpuluh -puluh tahun dilalui Supinah setiap hari menjajakan kue untuk mengais rejeky.

Entah berapa ribu kilometer sejumlah ruas jalan dan gang di tapakinya Supinah tak bisa menghitungnya.Yang ia ingat sudah lebih 30 tahun ia berjualan kue keliling di Kota ini.Lebih separo hidupnya dirajutnya dengan berjualan kue saat ia belum menikah dulu.

Supinah tak menyesali jalan hidup yang tidak berpihak ini.Baginya hidup segetir apapun harus dihadapi dengan semangat baja, pantang menyerah dan mensyukuri atas semua karunia Tuhan yang tidak hanya masih memberikan kesempatan ia hidup , tapi juga anugerah kesehatan sehingga ia dapat mencari nafkah memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Terlebih, ia kini hidup sebatang kara yang tak memiliki anak, dan suaminya dua tahun lalu meninggal dunia.Tetapi ia masih bisa tersenyum karena masih memiliki kerabat ,sanak family dan saudara.

Bagi Supinah, meniti jalan yang setiap hari ia lewati di Kota Sampit seperti halnya ia meniti kehidupan, yang memiliki pengharapan.Soal terkadang panas dan hujan ketika ia menjajakan kue, sesuatu yang dianggapnya biasa dalam melakoni pekerjaannya mencari sesuap nasi.

Seperti yang ia anggap juga biasa tentang hidup getir yang ia jalani.

Ia yakin adaTuhan yang akan memberikan perlindungan dan rejeky selama kita berdoa dan berikhtiar serta tidak berpangku tangan.

Menurutnya, segetir apapun jalan hidup tidak harus diratapi dan ditangisi.Tetapi harus dijalani dengan penuh rasa syukur terlebih hidup ini hanya satu kali saja.Sebagai ujian untuk menuju pada kehidupan yang sebenarnya.

Disadari Supinah,sebagai seorang perempuan memiliki anak dan ada suami merupakan sesuatu yang normal diharapkan seorang wanita.
Namun ia paham, nasib dan jalan hidup terkadang realitasnya tidak seperti yang diharapkan.

Tapi itulah kehidupan,kewajiban kita bekerja dan berdoa semoga hari esok lebih baik dari hari ini. ( Ruslan AG )

About dwidjo -

Check Also

Sepotong Ingatan dari Solo

Saat roda pesawat menyentuh landasan bandara Adi Soemarmo Solo, membawa ingatan melompat, lalu hinggap di ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *