Home / Profil / Mudik: Kulo Nuwun Kulon Progo

Mudik: Kulo Nuwun Kulon Progo

Judul tulisan ini mengambil tulisan pada sebuah kaos yang pernah saya buat. Kaos yang pernah saya maksudkan sebagai ekspresi saking cintanya pada bumi tumpah darah bernama Kulon Progo. Sudah cukup lama kaos itu menjadi mimpi sebagai identitas kultural (mudah-mudahan bisa terwujud) masyarakat Kulon Progo. Dan, inilah momen yang pas, saat semua orang berbondong-bondong meninggalkan kota menuju kampung halamannya. Kulonuwun Kulonprogo.

Baik. Cerita akan saya mulai dari kata mudik. Sebuah istilah yang sangat populer dan laku, tanpa pernah berniat menelusuri bahwa mudik berasal dari makna kata, menuju udik. Dalam khazanah bahasa Betawi, udik berarti kampung.

Sungguh. Ada rasa syukur yang tiada terkira karena saya lahir di kampung, sehingga paham betul nikmatnya mudik. Selama ini, banyak teman yang iri hanya karena mereka tidak bisa merasakan indahnya mudik. Apalagi memaknainya.

Entah bersungguh-sungguh, atau sekadar berkelakar, di antara mereka bahkan meminta untuk bisa numpang mudik. Tujuannya, agak aneh: agar bisa ikut merasakan kemacetan yang selalu diliput oleh media, melihat tingkah polah para pemudik di jalan, bahagianya bertemu rest area (sehingga bisa melepas semua yang semula ditahan dalam kebelet panjang), ataupun membaca tulisan-tulisan lucu di bagian belakang kendaraan para pemudik.

Mudik, sejatinya adalah proses hidup yang tidak mandeg. Ritual mudik berubah, mengikuti perkembangan (atau) kedewasaannya yang juga bertambah.  Dari yang masih mudik ala kadarnya, yang menggambar kehidupan sederhana, hingga mampu berkendara dengan penuh gaya. Dan, cerita berikut ini, saya tulis dilatarbelakangi pengalaman diri, tanpa indikasi sebagai fiksi.

                        Mudik ala Mahasiswa

Setelah lulus SMA, tidak ada pilihan lagi kecuali merantau dan kuliah di kota nan jauh dari kampung halaman. Ini, terjadi, kurang lebih 32 tahun lalu. Nyatalah, diterima di sebuah perguruan tinggi di Bandung, memaksa diri menjauh (tentu menjauh dari sisi jarak) dengan ayah dan ibu yang berada di sebuah dusun di Kulon Progo.

Nah, prosesi mudik, selanjutnya  menjadi pengobat rasa rindu. Juga, pemuas rasa manja setelah lebih dari 17 tahun selalu dekat dengan kedua orangtua. Tidak bisa sering mudik, karena tergantung jadwal libur kuliah, memberi tensi rindu yang menggebu.

Dan, Lebaran merupakan momen terbaik  untuk merekat ulang kedekatan dengan orangtua, terutama ibu. Ini dia sosok sentral yang menjadi pusat kerinduan, karena (mungkin juga) belum kenal dengan calon ibu dari anak-anak.

Sebelum mudik, tidak afdol jika tidak membeli kaos bertuliskan nama universitas, atau membeli stiker yang bisa ditempel di kamar rumah di kampung. Sebuah kecongkakan yang kadang memalukan, karena hanya untuk bilang kepada tetangga dan teman, ini lho saya sang mahasiswa.

Mudik ala mahasiswa  yang paling heroik (padahal hanya karena tidak punya banyak uang saku) adalah saat menumpang mobil saudara. Tapi tunggu dulu, numpang mobil bukan berarti menikmati segala kenyamanan, karena ini adalah mobil bak terbuka. Sebuah kendaraan operasional di lapangan yang bagian belakangnya ditutup terpal. Saya pasrah saat hujan dan angin menerpa. Saya juga sudah menyiapkan mental untuk muntah setiap mobil dibuat meliuk oleh jalanan di jalur selatan Jawa yang berkelok.

                    Mudik ala Keluarga Baru

Lulus kuliah dan bekerja merupakan modal utama melamar seorang gadis untuk menjadi pendamping hidup. Keputusan menikah tahun 1994 membawa konsekuensi yang tidak ringan dalam hal mudik. Minimal ada dua “udik” yang harus dituju. Udik sendiri dan udik pasangan tercinta.

Bersyukurlah karena perjalanan menuju dua udik itu, satu arah, sehingga ada semacam tempat singgah sebelum melanjutkan destinasi mudik berikutnya. Tapi karena tidak pantas lagi numpang kendaraan saudara serta untuk alasan keselamatan karena telah membawa anak orang, pilihan menggunakan moda kereta api adalah pilihan tepat.

Jangan pernah membayangkan nyepur kala itu, senyaman naik kereta saat ini. Benar. Sama sekali tidak nyaman, bahkan sekadar dibayangkan. Tapi seburam apapun pengalaman naik kereta api pada masa lampau, tetap saja menjadi cerita (kepedihan) yang rasa-rasanya kok ya nostalgik betul. Ada perjuangan sangat keras, sejak mendapat tiket dengan harga maut dari tukang catut yang bagai merajai semua stasiun kereta. Lalu, begitu berada di dalam gerbong, perjuangan berikutnya sudah berlimpah.

Oke. Setelah semua perjuangan itu dimenangkan, hadiahnya adalah rasa  bangga karena bisa mudik dengan pasangan baru kita. Minimal, bapak-ibu senang melihat anaknya laku juga, akhirnya. Kebanggaan terus mengalir selama di kampung halaman, terutama karena setiap bertamu di rumah saudara dan tetangga seolah bisa bilang, “tak apa saya tak dilaku di kampung, tapi lihatlah saya laku di kampung orang.”

Tapi memang, kebanggaan itu, pendek saja usianya. Sebab, perjalanan balik ke kota meminta perjuangan yang (lagi-lagi) tak lunak. Upacara berebut bisa naik kereta ekonomi kembali diperagakan, sehingga tidak peduli meski akhirnya hanya kebagian ruang sempit di dekat toilet. Bila sudah begitu, jangan salahkan pasangan yang tak kuasa menahan air mata sambil berkata dalam batin, “Tuhan, apa salah saya, sampai dapat orang udik banget begini.”

Mudik ala Keluarga Kecil

Kala memiliki buah hati, mudik menjadi hal yang lebih rumit. Mungkin akan lebih mudah jika dikaruniai kendaraan roda empat, namun kemampuan baru sebatas membeli kendaraan roda dua. Risiko terlalu tinggi jika sepeda motor digunakan untuk perjalanan jarak jauh. Ada memang, niat agak edan-edanan mengulang perjalanan naik motor dari kampung halaman di Kulon Progo menuju Bandung yang pernah saya lakukan di jaman dulu. Tapi itu mustahil diulang, karena sudah ada anak dan istri yang tidak tega diajak bertualang serupa itu.

Kelegaan muncul saat mendengar ada teman menawari tumpangan di mobilnya. Sungguh sebuah haru yang tak dapat ditolak. Akhirnya, dengan membawa beberapa bantal untuk dijadikan kasur bagi buah hati, kami menumpang pria Magelang, teman kantor yang telah mahir mengendarai mobil sejak kecil.

Sampai di kampung, terlihat, orangtua makin senang karena cucunya telah belajar meneruskan tradisi mudik. Hal yang indah kita sampaikan kepada orangtua bahwa kini lengkap sudah hidup saya: ada pasangan dan buah hati yang membuat orangtua tidak khawatir karena anaknya sudah ada yang menyambutnya saat pulang kerja.

Mudik Bermobil

Meningkatnya perekonomian suatu keluarga, biasanya seiring dengan peningkatan karir. Atau oleh sebab kebenaran hakiki bahwa anak itu membawa rejeki. Jadi karena rejeki anak, akhirnya saya mampu membeli mobil. Inilah mobil pertama yang nyaris tak pernah terbayangkan bisa saya miliki. Maka, mudik dengan mobil juga menjadi pengalaman pertama yang mendebarkan, menyenangkan, sekaligus penuh haru-biru. Minimal, ada harapan bahwa orangtua akan gembira melihat anaknya makin mapan.

Tapi di antara semua perasaan itu, terselip cemas. Terutama karena ada bayangan mobil terantuk kendala di jalan raya. Maklum saja, meski sudah bisa membeli mobil, namun mobil pertama saya itu adalah mobil bekas, bukan mobil baru. Tentu cerita mobil bermasalah di jalan tidak perlu diceritakan pada keluarga atau tetangga agar kebanggaan mereka tidak menyusut karenanya.

Sudah. Sampailah di udik. Di kampung halaman yang benar saja, menyuguhi dengan puja-puji, karena pulang naik mobil pribadi. Rasanya, semua pujian itu, menebus penderitaan, karena beban cicilan tinggi tiap bulannya. Tetangga pun berdecak kagum, tanpa ikut merasakan beratnya beban cicilan.

Sejak pulang dengan mobil pertama, pada Lebaran-lebaran berikutnya saya pulang menggunakan mobil yang beberapa kali berganti. Mobil baru pun pernah kami bawa seolah ingin mengatakan wahai ayah ibu, ananda kini sejahtera.

                          Mudik ala Jelita

Ini beneran mudik Jelita alias jelang lima puluh tahun usia saya. Tapi di saat usia makin bertambah, jalanan semakin padat. Dari pantauan langsung (bukan langsung di TKP tapi langsung di televisi) tahulah bahwa banyak kendaraan yang menginap di jalan raya tanpa bisa bergerak. Dari Jakarta ke Kulon Progo, sebuah negeri asik (bukan asing), harus ditempuh lebih dari 24 jam. Jadi pada akhirnya, mudik membawa kendaraan sendiri mulai tidak nyaman.

Harus ada cara lain tanpa mengurangi bobot makna mudik. Lalu, saya mulai melirik (lagi) kereta api yang sudah mengalami banyak perbaikan. Beberapa kali, saat rejeki mulai ada, dikombinasi antara naik kereta api eksekutif dan naik pesawat yang harga tiketnya terjangkau. Sementara untuk mobilitas saat di kampung yang susah dijangkau oleh kendaraan umum, bisa diatasi dengan menyewa mobil.

Lalu apa yang bisa diceritakan saat membawa mobil sewaan yang terkesan seadanya? O pasti ada. Jika pemudik lain dengan mobil kerennya bercerita kemacetan parah sehingga harus  menempuh perjalanan dalam bilangan jam yang besar, saya cukup katakan tidak menemui kemacetan sama sekali dan hanya perlu kurang lebih satu jam sampai di Kulon Progo.

Tapi tentulah, semua itu saya ceritakan, sekadar untuk berkelakar, sambil menikmati suasana mudik yang langka. Bukan pamer. Bukan pula ingin sok kaya. Semua perjuangan sejak gaya mudik tempo dulu sampai mudik manis setelah berkeluarga, adalah usaha untuk menyenangkan orangtua.

Mudik Lebaran, yakinlah jauh lebih mendalam maknanya bagi orangtua yang tak mau atau tak mampu lagi bepergian jauh. Saat itulah, mereka hanya bisa mengharap kedatangan anak, mantu, dan cucunya untuk hadir dan menunjukkan baktinya.

Mudik juga sebagai rasa terimakasih kepada kampung halaman yang telah memberi bekal pengalaman batin sekaligus tempaan jiwa sehingga kokoh menjalani kerasnya kehidupan. Membelanjakan sebagian rejeki dari rantau di kampung halaman juga hal yang patut dilakukan agar roda perekonomian desa bisa tumbuh. Apalagi jika dapat berbagi dan menyumbang untuk pembangunan desa, yakinlah bahwa mudik akan menjadi perjalanan menuju udik yang selalu dinanti.

Selanjutnya, mudik ke Kulon Progo sambiĺ mengucap kulo nuwun Kulon Progo, pasti akan disambut dengan tangan terbuka. Monggo para perantau asal Kulon Progo kembali sambil terus membangun negeri. Mari kita bereuni dengan segala kekampungan kita di masa lampau.

Mudik dan reuni barangkali, bisa menjadi proses penyucian diri dengan mengingat masa lalu yang mungkin bukan apa-apa, sehingga perlu sadar asal usul kita, perlunya membayar zakat, infak, dan sodakoh kepada warga di kampung halaman.

Kulo nuwun Kulon Progo. Mudik ke Kulon Progo tahun ini, rasanya akan sangat berbeda, karena akhirnya saya akan bisa menikmati pergelaran wayang kulit semalam suntuk pada tanggal 12 Juni 2019 nanti. Dan yang istimewa, wayangan di Lapangan Nganjir, Desa Hargorejo, Kecamatan Kokap, Kabupaten Kulon Progo itu, menampilkan dalang kondang Ki Seno Nugroho.

Kulonuwun Kulonprogo

@02062019

 

About redaksi

Check Also

Mbah Asrori Berbagi Setiap Jumat

Semarang, Koranpelita.com   Mbah Asrori umurnya 97 tahun, sangat sepuh. Lahir 1922, melintasi sejarah panjang. ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *